Banyak penyakit mematikan yang dapat mengancam kita baik penyakit yang menular maupun tidak. Namun, ada banyak juga cara pencegahan yang dapat kita lakukan dengan mudah. Ada banyak penyakit yang dapat kita cegah dengan melakukan vaksinasi dengan tepat. Salah satu penyakit mematikan yang dapat kita cegah dengan vaksinasi adalah penyakit difteri.

Lalu, apa itu difteri? Difteri adalah sebuah penyakit yang disebabkan karena infeksi bakteri. Bakteri tersebut menyerang daerah selaput lendir yang ada pada tenggorokan dan hidung. Penyakit ini merupakan penyakit yang menular dan dapat dikategorikan sebagai penyakit infeksi yang serius dan dapat mengakibatkan kematian. Bahasan kali ini mengenai penyebab, gejala, serta bagaimana cara pengobatan penyakit ini.

Difteri Pada Anak

Apa yang menjadi penyebab penyakit difteri?

Penyebab penyakit difteri adalah serangan bakteri corynebacterium diphtheriae. Penyakit ini dapat menyebar dengan mudah dan menyerang banyak orang. Risiko terserangnya penyakit ini akan semakin besar jika Anda termasuk orang yang tidak divaksinasi difteri. Adapun media penularannya diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Ludah
Air ludah dapat menjadi media penularan penyakit ini. Ludah penderita difteri yang terhirup pernafasan orang yang sehat dapat menjadi media penularan yang efektif. Misalnya saja saat penderita bersin, dan sebagainya.

2. Menggunakan barang bersama
Menggunakan barang bersama dengan penderita dapat menjadi salah satu media penularan penyakit ini. Barang yang dipakai penderita seperti handuk dan mainan dapat terkontaminasi bakteri penyebab difteri.

3. Menyentuh luka
Jika Anda menyentuh luka yang penderita, pastikan untuk mencuci tangan dengan bersih karena menyentuh luka dapat menjadi media penularan yang sangat efektif. Oleh karenanya, masyarakat yang tinggal di daerah yang tidak terjaga kebersihannya memiliki risiko yang lebih tinggi tertular penyakit ini.

Gejala Penyakit Difteri

Apa saja gejala difteri?

Bakteri penyebab penyakit difteri akan menghasilkan suatu zat racun yang akan menyerang sel sehat manusia pada area tenggorokan sampai akhirnya sel sehat tersebut mati. Sel yang sudah mati tersebut akan membentuk suatu membran berwarna abu pada bagian tenggorokan. Selain menyerang tenggorokan, zat racun tersebut juga memiliki potensi besar untuk ikut beredar pada peredaran darah dan merusak organ lainnya dalam tubuh manusia yang terinfeksi.

Pada awal gejala, infeksi bakteri ini bisa jadi tidak memberikan gejala apapun. Hal ini membuat banyak penderita tidak menyadari jika dirinya terserang difteri. Hal ini cukup berbahaya karena orang yang berada di sekitar penderita juga memiliki potensi tertular penyakit tersebut.

Adapun masa inkubasi penyakit difteri ini adalah 2 sampai 5 hari. Setelah masa inkubasi, akan timbul beberapa gejala yang menyerupai gejala penyakit lainnya. Adapun gejala yang muncul diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Suara serak dan tenggorokan sakit
2. Merasa menggigil disertai demam
3. Mengalami kesulitan pernafasan atau bernafas dengan cepat
4. Merasa lelah dan lemas
5. Mengalami pilek yang semakin mengental dan lambat laun bercampur dengan darah
6. Mengalami pembengkakan pada kelenjar limfe leher
7. Ada lapisan abu-abu pada bagian tenggorokan dan bagian amandel.

Terkadang, penyakit ini juga menyerang daerah kulit dan menjadikannya luka dengan jenis ulus. Luka tersebut bisa disembuhkan dalam jangkauan beberapa bulan jika mendapat penanganan dengan baik. Hanya saja, dapat menimbulkan bekas pada kulit.

Bagaimana pengobatannya?

Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami gejala di atas, ada baiknya Anda langsung memeriksakan penderita ke dokter. Penanganan yang lebih cepat akan membuat proses penyembuhannya pun akan semakin mudah. Karena penyebab penyakit ini adalah bakteri, maka pengobatannya menggunakan antibiotik. Pemberian antibiotik ini untuk membunuh bakteri yang sudah menginfeksi. Setelah didiagnosis terkena penyakit difteri, penderita akan langsung mendapatkan pengobatan dan diisolasi pada ruang isolasi agar tidak menularkan penyakit tersebut.

Jika sudah diberi antibiotik selama 2 hari, penderita sudah dapat dipindahkan ke ruangan rawat biasa. Konsumsi antibiotik diteruskan sampai jangka waktu 2 minggu. Setelah itu, pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan apakah bakteri sudah benar-benar hilang atau belum. Jika masih ditemukan, maka pengobatan harus dilanjutkan sampai jangka waktu 10 hari. Selain antibiotik, penderita juga diberi antitoksin. Antitoksin memiliki fungsi untuk menghilangkan zat racun yang sudah menyebar di dalam tubuh.
Bagaimana pencegahannya?

Penyakit difteri yang memiliki dampak yang sangat berbahaya ini dapat dicegah. Pencegahannya juga cukup sederhana dan dapat kita lakukan dengan mudah. Pencegahan yang sangat efektif adalah dengan pemberian vaksin. Vaksin difteri biasanya digabungkan dengan dua penyakit lainnya yaitu tetanus serta pertusis dan diberi nama vaksin DTP. Vaksin ini sudah menjadi vaksin wajib bagi balita di Indonesia dan tersedia secara gratis.

Pemberian vaksin ini dilakukan sebanyak 5 kali yaitu pada saat bayi berusia 2, 3, 4, dan 18 bulan serta yang terakhir pada saat berusia 5 tahun. Pada saat usia 10 dan 18 tahun, Anda dapat memberikan booster yaitu vaksin td dan perlu diulang pada 10 tahun sekali. Imunisasi kejaran juga dapat dilakukan jika anak tidak mengikuti vaksinasi dengan lengkap. Imunisasi kejaran dapat dilakukan pada saat anak berusia 7 tahun dengan nama vaksin TDAP. Perlindungan dari difteri ini berlaku seumur hidup. Jadi, jika Anda mendapatkan vaksinasi secara lengkap, Anda sebenarnya dapat terhindar dari penyakit difteri.

Itu tadi ulasan mengenai penyakit difteri mulai dari pengertian, gejala, pengobatan, sampai dengan cara pencegahannya. Semoga dapat menjadi informasi yang bermanfaat bagi Anda. Anda akan terlindung dari penyakit ini seumur hidup jika Anda sudah divaksinasi dengan lengkap pada saat balita. Menjaga hidup bersih dan sehat juga dapat mencegah terjangkitnya penyakit ini. Salam sehat selalu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here